Lain2

FILSAFAT VS KEDAHSYATAN OTAK MANUSIA

Seseorang yg berfilsafat dapat diumpamakan seorang yg berpijak di bumi sedang tergadah kebintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemesaan galaksi. Atau, seseorang yg berdiri di puncak tinggi memandang ke negarai dan lembah dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dgn kesemestaan yg ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yg pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yg lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dgn moral. Kaitan ilmu dgn agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya. Disisni juga manusia mulai ingin tahu misteri dibalik otak manusia yg maha dasyat.

1. KEDASYATAN OTAK MANUSIA

perubahan besar dan mendasar senantiasa terjadi dalam kehidupan yg penuh dgn dinamika. Banyak fakta yg mengemukakan hal ini, diantaranya adalah :

• Quantum Learning adalah suatu metode pembelajaran yg telah berhasil digunakan oleh pembisnis dan pelajar dari tingkat dasar hingga program doktoral denagn hasil yg mencengangkan. Kelahirannya dipelopori oleh Bobbi DePorter yg bukan seorang seorang profesor pendidikan, melainkan seorang yg pada awalnya adalah sbagai agen Howthorne/Stone Real Estate di San Fransisco.

• Fisika Quantum, pada tahun 1905, persoalan fisikawan klasik Jerman yg sudah bertahun-tahun tidak terjawab, yaitu tentang fenomena efek fotolistrik. Kini terjawab tuntas dgn formulasi energi kinetik E=hf-P. Dicetuskan oleh anak muda berusia 26 tahun, pegawai kantor Paten Swiss di Bern, yg bernama Albert Einstein.

Pada tahun 1950-an para ahli ilmu jiwa memperkirakan bahwa rata-rata orang yg menggunakan 50 % bkapasitas otaknya. Pada 1960-an dan 1970-an, perkiraan tersebut turun menjadi 10 %. Pada 1980-an hal tersebut turun lagi menjadi 1 %. Sekarang, pada tahun 1990-an perkiraan tertinggi adalah 0.01 % atau lebih kecil lagi.

Perkiraan ini bukan mencerminkan menurunnya kecerdasan global, melainkan lebih merupakan suatu ungkapan kemampuan kita yg makin canggih dalam mengukur potensi otak. Salah satu penelitian otak yg paling terkemuka, Profesor Pyotor Anokhin, mengumumkan hasil perkiraan ilmiahnya tentang jumlah pola pemikiran yg mampu dihasilkan oleh rata-rata otak manusia. Perkiraannya, yg menurutnya masih sanagt konservatif, adalah lebih besar daripada jumlah atom di seluruh alam semesta.

Sewaktu pesawat ruang angkasa Enterprise melesat menuju kegelapan, sebuh suara suram memulai film series Star Trek dgn … “Ruang angkasa … ruang tak dikenal.”

Da wilayah lain yg masih merupakan misteri, yg juga luas dan belum dipetakan – yg lebih dekat pada kita … pikiran kita sendiri. Cakupannya hampir sama luasnya dgn luar angkasa. Dalam masa otak yg keriput, berwarna abu-abu dan berbobot sekitar 1.5 kg terdapat sekitar 10-15 milyar sel syaraf yg mampu membuat 10 800 jalur! Kita umumnya tak akan dapat memahami arti potensi tersebut- hal itu tak terbaygkan besarnya. Richard Restak, M.D., dalam bukunya, The Brain menyatakan “otak manusia dapat menyimpan informasi lebih banyak daripada seluruh perpustakaan di dunia.”

Dalam The Three –Pound Universe, Judith Hooper dan Dick Teresi membandingkan otak dgn alam semesta ini. Mereka menyatakan, “otaklah alam semesta tersebut. Segala sesuatu yg kita ketahui- mulai partikel sub atomis samapai galaksi yg sangat jauh- segala yg kita rasakan- dari rasa cinta kita pada anak-anak kita sampai rasa takut terhadap musuh- dialami dan dibentuk dalam otak kita. Tanpa otak tidak ada apapun- tidak partikel nuklir (Quark), tidak lubang hitam (black hole), tidak rasa cinta, tidak pula kebencian- pada diri kita.”

Banyak pemikir besar kita – termasuk Aristoteles- yg percaya bahwa pikiran kita terletak disekitar perut atau hati. Plato menempatkan pikiran pada otak… tetapi hanya karena bentuk otak. Sebagiam besar informasi tentang otak baru diketahui dalam 20 tahun terakhir ini tetapi pengetahuan ini baru mulai menggugah kesadaran kita terhadap kompleksitas (kerumitan) otak yg luar biasa.

Kita sering membandingkan otak kita dgn komputer : sama-sama mempunyai masukan, sama-sama memperoleh data melalui prosesor pusat dan sama-sama mempunyai keluaran. Komputer adalah model pemrosesan data bit demi bit yg logis. Dgn makin canggihnya komputer, otak nyaris tampak seperti versi lamban komputer yg kuat dan seperti kilat.

Walaupun demikian, sejalan dgn meningkatnya pengetahuan tentang kedua belah otak dan komputer, para ilmuan pun sadar bahwa komputer bukan hanya otak yg lebih baik dan lebih besar.

Ada hal-hal yg dapat dilakukan otak, yg sama sekali tidak dapat dilakukan oleh komputer. Misalnya, jika kita pergi ke acara reuni SMU setelah 20 tahun berlalu dan bertemu denagn teman kita yg kini botak dan berat badannya bertambah 15 kg sejak terakhir bertemu, mungkin sekali kita masih bias mengenali dia. Komputer tidak dapat melakukan hal itu. Pengenalan kita terhadap teman kita tersebut berdasarkan pengenalan pola. Apabila mendengar lagu Garuda Pancasila, kita langsung bias mengenali lagu tersebut. Ini adalah penyempurnaan pola. Kita dapat melakukannya dgn mudah; komputer sangat sulit melakukannya, itupun jika bias. Jika melihat kata “klieru”, kita tetap dapat mengerti artinya. Dalam hal ini, yg terjadi adalah pengoreksian pola. Dan sekali lagi hal itu hampir tidak mungkin bagi komputer.

Robert Heinlein, dalam Stranger in Strange Land, menggunakan istilah grok. Meng-grok artinya mengerti segala sesuatu dalam seketika. Jika sesuatu di grok-kan, polanya dimengerti secara menyeluruh sebagai suatu konfigurasi. Hingga kini, komputer tak dapat meng-grok. Otak juga dapat mengatasi keambiguan atau makna ganda.

Edward de Bono, pengarang sejumlah buku tentang pikiran dan proses berpikir, menggunakan analogi yg tepat menggambarkan berlangsungnya proses pengenalan pola dan lahirnya suatu gagasan kreatif.

De Bono membandingkan pikiran kita dgn semangkuk selai yg sudah mengeras sehingga permukaannya benar-benar rata. Ketika memasuki pikiran, informasi menata dirinya sendiri. Hal ini seperti meneteskan air hangat dgn sendok teh ke semangkuk selai. Baygkan, air hangat tersebut diteteskan ke atas permukaan selai, lalu digerak-gerakkan sedemikian rupa sehingga tetesan air mengalir ke luar mangkuk. Setelah proses ini diulang beberapa kali, permukaan selai akan penuh denagn galur, lekukan, dan jalur bekas aliran air.

Tetesan air berikutnya akan otomatis mengalir dalam galur yg terbentuk. Tak berapa lama kemudian, hanya diperlukan sedikit informasi untuk mengaktifkan seluruh saluran. Inilah proses pengenalan pola dan menyempurnakan pola. Sewaktu memasuki pikiran, informasi masuk ke dalam sebuah saluran, sebuah pola. Walaupun misalnya, sebagaian besar informasi berada di luar saluran, pola tersebut akan diaktifkan. Pikiran secara otomatis “mengoreki” dan “melengkapi” informasi untuk memilih dan mengaktifkan sebuah pola.

Kekreatifan muncul jika kita memikirkan semangkuk selai tersebut dan mendesak air (informasi) mengalir ke saluran yg baru dan membuat hubungan baru.

Setahap demi setahap, spesialisasi setiap Bagian otak dikenali mempunyai sifat berikut :

• Otak kiri : bahasa, logika, angka, urutan, melihat terperinci, linier, tampilan simbolis, memberi koreksi.

• Otak kanan : memberi gambaran, irama, musik, imajinasi, warna, melihat secara keseluruhan, pola, emosi, tidak memberi koreksi.

Hal yg penting yg harus diingat adalah bahwa otak kanan dan otak kiri sebenarnya hanya istilah singkat, atau metafora, untuk spesialisasi yg cenderung ditangani oleh belahan otak masing-masing. Kedua rangkaian sifat belahan otak ini menentukan proses berpikir kita. Kreatifitas muncul dari interaksi yg luar biasa antara kedua belahan otak, dan bukan hanya berasal dari belahan otak kanan.

Jika kita percaya bahwa ingatan disimpan dgn cara yg sama seperti hologram, ada mekanisme untuk memahami kapasitas otak. Menurut Peter Russel, satu sentimeter kubuik hologram fotografik dapat menampung sepuluh milyar bit informasi- otak manusia 1.500 kali lebih besar. Dia memperkirakan bahw kapasitas memori manusia mempunyai orde quadrillion (1.000 juta-juta!?) bit informasi. Tentu saja, sebagian besar digunakan untuk program-program fungsi tubuh kita, namun masih tetap tersisa kapasitas yg besar untuk mengingat semua pengalaman kita.

Peter Dean, seniman, berkata, yg dikutip dalam Who’s Who, “Aku ini penyihir yg mengubah baygan zaman menjadi lukisan. Aku penerjemah realita ke dalam fantasi dan sebaliknya. Aku penyulap warna dan tekstur. Aku melihat lalu dan meramal masa depan. Aku mendendarai badai, aku berjalan di atas tali akal sehat. Aku hidup di batas dunia.” (penekanan dari pengarang.)

“Aku hidup di batas dunia.” pernyataan tersebut melukiskan dgn sempurna perasaan orang yg menyelami jiwa dirinya yg terdalam … orang menemukan diri terdalamnya. Dan menerjemahkan keunikan terdalamnya menjadi suatu tindakan nyata.

2. PENALARAN DAN RASIONAL

Kemampuan menalar ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yg merupakan rahasia kekuasaan-kekuasannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengethuan ini. Dia mengetahui mana yg benar dan mana yg salah, mana yg baik dan mana yg buruk, serta mana yg indah dan mana yg jelek.

Penalaran menghasilkan pengetahuan yg dikaitkan dgn kegiatan berpikir dan bukan dgn perasaan. Penalaran merupakan kegiatan berpikir yg mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran.

Sebagai suatu kegiatan berpikir, penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu adanya suatu pola berpikir yg secara luas disebut logika dan sifat analitik dari proses berpikirnya. Perasaan merupakan suatu penarikan kesimpulan yg tidak berdasarkan penalaran. Kegiatan berpikir juga ada yg tidak berdasarkan penalaran yg umpamanya adalah intuisi. Intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yg nonalitik yg tidak mendasarkan diri kepada suatu pola pikir tertentu. Disamping itu masih terdapat bentuk lain dalam usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yakni wahyu.

Dalam hal penalaran maka kita belum berbicara mengenai materi dan sumber pengetahuan tersebut, sebab dikatakan terdahulu, penalaran merupakan cara berpikir tertentu. Untuk melakukan kegiatan analisis maka kegiatan penalaran harus diisi dgn materi pengetahuan yg berasal dari suatu sumber kebenaran. Pengetahuan yg dipergunkan dalam penalaran dasarnya bersumber pada rasio dan fakta. Mereka yg berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran, mengembangkan paham yg kemudian disebut sebagai rasionalisme. Sedangkan mereka yg menyatakan fakta yg tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham empiris.

3. IMAN

Iman berasal dari kata kerja amina-yu’manu-amanan yg berarti percaya. Oleh karena itu, iman yg berarti percaya menunjuk sikap batin yg terletak dalam hati. Akibatnya, orang yg percaya kepada Tuhan dan selain seperti yg ada dalam rukun iman.

Iman buakan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan ini mendorong seorang untuk berbuat. Oleh karena itu lapangan iman sangat luas, bahkan mencakup segala sesuatu yg dilakukan seoseorang.

Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorong untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dgn keyakinan. Karena itu iman bukan hanya dipercayai atu diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yg dibuktikan dalam perbuatan.

Iman mengikat seseorang, sehingga ia terikat dgn segala aturan hukum yg datang dari sumber yg diimaninya itu. Oleh karena itu jika ada manusia yg meyakini sesuatu, misalnya mengimani Allah (dalam agama Islam) maka dia harus melaksanakan segala sesuatu yg diatur dalam ajaran Islam. Seluruh hidupnya didasarkan pada ajaran islam.

4. MENCOBA BERFILSAFAT

Dari segala yg sudah diterangkan ditas dapat diketahui bahwa otak manusia begitu dasyat dan tidak ada memori atau alat-alat elektronik yg dapat menyamainya bahkan menggantikannya. Disana bener-benar tersimpan keajaiban yg luar biasa. Yg perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana otak dgn begitu hebatnya itu bisa tercipta dan siapakah yg menciptakannya?.

Pertanyaan inilah yg membuat kita dapat memahami serta menilai lebih bijaksana lagi akan adanya Maha kuasa atas segala sesuatu di dunia ini. Yaitu kita mengimani sesuatu dzat yg Maha segalanya yg dapat menciptakn sesuatu yg serba hebat dan canggih tanpa ada yg dapat menandinginya.

Dalam salah satu cabang dari ilmu-ilmu filsafat, ada sebuah teori tentang “

“ yg disana menyebutkan bahwa “

“ yg dalm bahasa lain bisa juga digambarkan bahwa “tidak ada sesuatu yg tidak ada karena tidak ada itu keadaan ada. Jika tidak ada dan ada itu ada, maka pembuat ada dan tidak ada itu ada.”

Jadi segala sesuatu itu pasti ada yg menciptakan apalagi sesuatu yg maha dasyat seperti otak yg secara rasio dapat klita ketahui. Dan funfsi filsafat itu sendiri adalah untuk kebijaksanan dan mencari sesuatu yg benar benar benar dgn bijak. Filsafat cinta akan kebijaksanaan dan kebenaran.

http://senyum19.multiply.com

Satu Tanggapan

  1. upload/situs/eskimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: